Minggu, 04 Oktober 2009

Teori Psikoanalisis

TEORI PSIKOANALISIS

Banyak tokoh yang berpendapat tentang pandangannya terhadap psikoanalisis. Seperti: Sigmund Freud (1856-1939), Carl Gustav Jung (1875-1961), Erik Erikson (1902-1994), Karen Horney (1967), Alfred Adler (1929,1964), William Schutz (1955,1958). Perspektif psikoanalisis memandang perkembangan dibentuk oleh kekuatan bawah sadar yang memotivasi perilaku manusia. Sigmund Freud adalah seorang dokter Vienna, mengembangkan psikoanalisis, sebuah pendataan terapeutik yang bertujuan memberikan pemahaman terhadap konflik emosional bawah sadar. Teoretisi lain, termasuk di dalamnya Erik Erikson, telah mengembangkan dan memodifikasi perspektif psikoanalitis.
  • Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah tokoh pertama dan utama dari aliran psikoanalisis. Menurut Freud, dasar perilaku adalah insting (inborn motives) yang bertempat dalam alam ketidaksadaran. Ketidaksadaran adalah ciri utama psikoanalisis, khususnya yang diajarkan oleh Freud, dan itu lah yang membedakan dari teori psikologi yang lainnya.
Ada dua jenis insting atau naluri, yaitu “eros” (naluri kehidupan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan individu atau spesies) dan “tanatos” (naluri kematian, dorongan untuk menhancurkan yang ada pada setiap manusia dan dinyatakan dalam perkelahian, pembunuhan, perang, sadisme, dan sebagainya). Namun tidak semua naluri tercetus menjadi perilaku. Naluri (seks atau agresif) itu selalu bertentangan dengan norma-norma. Oleh karena itu, ada mekanisme dalam jiwa atau kepribadian menusia yang mengendalikan naluri itu.
Menurut Freud terdapat tiga komponen dalam kepriadian, yaitu Id yang selalu berprinsip mau memenuhi kesenangannya sendiri (pleasure principle), contohnya seperti naluri seks dan agresivitas, ego yang selalu berorientasi pada kenyataan (reality principle), dan super-ego yang selalu berpatokan pada norma-norma yang baku (moral standar).
Dinamika kepribadian dalam teori ini adalah “pertempuran” antara ketiga komponen kepribadian tersebut. Id yang hanya mencari kesenangan itu merengek dan meminta terus agar hasrat-hasratnya selalu dipenuhi, tetapi ego melihat realitas dahulu sebelum memenuhi permintaan Id, dan akan mempertimbangkan pendapat super-ego yang pada gilirannya selalu mempertimbangkan norma-norma masyarakat yang sudah diserap sebagai nilai-nilai diri sendiri.
Pembentukan nilai-nilai dari super-ego ini terjadi pada masa kanak-kanak. Salah satu contohnya adalah melalui proses yang dinamakan Oedipoes Complex, yang terjadi pada usia 3-6 tahun, yaitu ketika anak sedang dalam tahap phalic dalam perkembangan psiko-seksualnya. Dalam proses Oedipoes Complex tersebut anak secara naluriah menaruh minat seksual kepada ibunya, tetapi takut kepada ayahnya karena ayahnya mempunyai minat yang sama kepada ibunya. Padahal, ayah jauh lebih besar dan kuat. Anak takut bahwa dalam marahnya si ayah akan “mengebiri” kemaluan anak dan timbullah kecemasan diskastrasi (castration anxiety) pada anak. Akhirnya, anak menuruti perintah-perintah dan meniru perbuatan ayah (imitasi) dengan maksud agar ia terhindar dari hukuman ayah. Disinilah norma-norma ayah masuk ke dalam ego anak dan akhirnya diserap (diinternalisasikan) ke dalam super-egonya. Anak itu (laki-laki) akan tumbuh menjadi orang dewasa yang berjiwa laki-laki seperti ayahnya dan karena itulah perilakunya pun kelaki-lakian (maskulin).
Seperti yang telah diuraikan di atas, banyak kritik terhadap Freud. Khususnya, karena metodenya dianggap tidak baku, subjektif, dan jumlah klien sedikit dan semuanya pasien klinis (penderitaan gangguan jiwa). Para penentang Freud tidak dapat menerima bahwa analisis dari para pasien sakit jiwa dapat digeneralisasikan pada populasi umum.
Di pihak lain Freud dianggap banyak memberi sumbangan pada perkembangan psikologi, khususnya dalam hal mengembangkan konsep motivasi dari alam ketidaksadaran dan mengarahkan fokus penelitian pada pengaruh pengalaman masa awal kehidupan atau masa anak terhadap perkembangan kepribadian selanjutnya sampai dewasa. Di samping itu, Freud juga merangsang studi yang intensif tentang emosi, yaitu cinta (love), takut (fear), cemas (anxiety), dan seks,

  •  Erik Erikson
Tokoh psikoanalisis kelahiran Jerman yang merupakan salah seorang rekan di lingkar dalam Freud di Vienna, memodifikasi dan memperluas teori Freud dengan menekankan pengaruh masyarakat terhadap perkembangan kepribadian. Ia setuju dengan banyak gagasan Freud, seperti insting, kepribadian yang terdiri dari id, ego, dan super-ego, perkembangan kepribadian yang bertahap-tahap, dan bahwa anak harus mengalami krisis di masa kanak-kanak untuk berkembang ke masa dewasa. Akan tetapi, ia pun berbeda dari Freud dalam berbagai hal, seperti anak adalah aktif, pencari yang adaptif, bukan penerima yang pasif. Erikson malah menyatakan bahwa perkembangan ego bersifat seumur hidup. Selain itu, ego adalah yang terpenting, bukan ketidaksadaran. Ego harus mengerti realitas. Selanjutnya, menurut Erikson manusia adalah makhluk rasional yang dikendalikan ego, bukan karena onflik antara Id, ego, dan super-ego. Akhirnya, Erikson lebih menekankan pada aspek sosial daripada seksual.
Erikson adalah perintis perspektif rentang kehidupan (life-span perspective). Ketika Freud menekankan bahwa pengalaman di awal masa kanak-kanak membentuk kepribadian secara permanen, menurut Erikson ada delapan krisis dalam perkembangan kepribadian manusia.
1. Basic trust (kepercayaan) VS mistrust (ketidakpercayaan diri), 0-1 tahun.
2. Autonomy (otonomi/kemandirian) VS shame and doubt (rasa malu dan ragu/takut gagal), 1-3 tahun.
3. Initiative (inisiatif) VS guilt (rasa bersalah), 3-6 tahun.
4. Industry (industry/percaya diri karena keberhasilan sosial dan akademik) VS inferiority (rasa rendah diri), 6-12 tahun.
5. Indentity (identitas) VS role confusion (kekaburan/kekacuan identitas)
6. Intimacy (kekariban/keintiman) VS isolation (kesendirian jika kurang dapat bergaul), 20-40 tahun.
7. Generativity (generatiitas/produktif dalam kerja dan keluarga) VS stagnation (stagnasi/kemandekan), 40-65 tahun.
8. Ego integrity (integritas ego) VS despair (keputusasaan), tua atau tahap terakhir sebelum kematian.
Teori Erikson lebih disukai daripada teori Freud karena lebih bannyak mengungkapkan aspek sosial daripada seksual. Sumbangan lainnya adalah dalam hal konsep tentang konflik atau dilema sosial dan yang terpenting adalah pandangannya yang lebih menekankan manusia sebagai makhluk rasional daripada makhluk naluri. (Erikon,1963)

Referensi :
Papalia Diane. E, Sally Wendkos Olds , Ruth Duskin Feldman. 2001. Human Development eighth edition. New York : Mc Graw Hill
Sarwono, Sarlito Wirawan. 1996. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta : Balai Pustaka

3 komentar:

  1. Wah...blognya keren juga nih....kamu anak gundar yah ? blog kamu udah di daftarin lomba blog bulanan di Gunadarma ? kalo belum, cepetan daftar di Studentsite. Syaratnya gampang ko, coba kamu cek di TULISAN INI untuk informasi lebih lanjut. Silahkan gunakan Yahoo Pingbox yang ada pada sebelah kanan situs tersebut untuk bertanya hal - hal seputar blog.

    sekedar mengingatkan kembali, URL yang kamu kirimkan pada saat akan Submit Tugas melalui studentsite, adalah URL dari tulisan tugas tersebut. Bukan URL dari homesite blog kamu.

    misalnya, tulisan ini adalah tugas, maka URL yang diisikan adalah :

    http://rinateoripsikoanalisis.blogspot.com/2009/10/teori-psikoanalisis-banyak-tokoh-yang.html

    kemudian isikan Judul sesuai dengan judul tugas yang diberikan, sedangkan matauliah, diisikan dengan nama matakuliah softskills-nya.

    Follow Back yach.. ;)

    BAPSI

    BalasHapus
  2. iya nih, aku mahasiswi gunadarma..
    jangan lupa di liat n di komentari juga yaa blog aku yang 1 lagi, yang lebih banyak tulisannya..
    http://sukapsikologi.blogspot.com/

    BalasHapus